Saham MEDC: Spesial Pilihan Saham Murah Tipe Cyclical, Begini Strateginya
Saham MEDC turun ke Rp1.250-an per saham. Seberapa menarik saham ini?
Mikirduit – MEDC menjadi saham cyclical yang menarik dalam kondisi jangka pendek. Secara hitungan, harusnya saham MEDC sudah terdiskon dengan prospek kinerja, tapi bagaimana peluang dan risikonya?
Saham MEDC sudah turun 39% menjadi Rp1.230 per saham sejak pertengahan Maret 2026. Penurunan harga saham MEDC itu selaras dengan penurunan harga minyak dunia dari level US$110-an menjadi US$91 per barrel. Lalu, kenapa bisa dibilang harga saham MEDC terdiskon ketika harga minyak turun?
Jawabannya ada di prospek kinerja keuangan perseroan yang berpotensi tetap tumbuh meski harga minyak turun ke US$80-90 per barrel. Ada dua alasan kuatnya:
Pertama, dari guidance manajemen, MEDC berpotensi mencatatkan kenaikan rata-rata produksi migas sekitar 6-9% dari 156.000 barrel equivalen minyak per hari menjadi sekitar 165.000 - 170.000 barrel equivalen minyak per hari. Bahkan, MEDC berpotensi mencatatkan rekor produksi tertinggi hingga 176.000 barrel equivalen minyak per hari jika melihat tren kinerja di akhir 2025.
Produksi migas MEDC ditargetkan naik karena ada dorongan beberapa tambahan blok migas seperti:
- Kontribusi penuh blok Corridor setelah perseroan memiliki 70% hak kepemilikan blok tersebut sejak pertengahan 2025
- Produksi lapangan baru di Natuna, yakni Forel dan Terubuk yang baru mulai berproduksi pada paruh pertama di 2025
- Proyek Senoro Fase 2A yang beroperasi penuh pada kuartal II/2026
- Ekspansi ke blok minyak lepas pantai Cendramas di Malaysia yang baru ditanda-tangani kontraknya pada Maret 2026
- Penemuan cadangan di West Kalabau di Blok Rimau pada Januari 2026
Kedua, harga jual rata-rata migas MEDC berpotensi naik dibandingkan 2025. Apalagi, harga jual rata-rata migas MEDC di 2025 mengalami penurunan. Untuk minyak turun 15% menjadi US$66 per barrel, sedangkan gas turun 2,8% menjadi US$6,8 per MMBTU.
Jika minimal harga jual rata-rata minyak naik ke US$75, sedangkan harga gas naik ke US$7, berarti bisa mendongkrak kinerja MEDC di full year 2026.
Bisnis Pembangkit Listrik MEDC
Dari bisnis pembangkit listrik juga punya ruang pertumbuhan. Perseroan memiliki beberapa rencana peningkatan kapasitas pembangkit listrik sekitar 4% menjadi 4.550 GWh.
Kenaikan kapasitas produksi itu berasal dari pembangkit panas bumi Ijen Unit 1 sebesar 35 MW, PLTS Bali Timur 25 MW, dan ekspansi kapasitas ELB Batam (tenaga gas) sebesar 39 MW.
Lalu, apakah kenaikan harga gas bisa mempengaruhi kinerja bisnis pembangkit listrik MEDC?
Menurut penelusuran laporan keuangan MEDC, ada potensi skema kontrak listrik MEDC menggunakan mekanisme pass-through, yakni biaya bahan bakar menjadi komponen yang dibayarkan kepada pembeli, yakni PLN. Hal itu terlihat dari komponen harga tenaga listrik yang mana biaya gas, perawatan, dan overhead diakui sebagai pendapatan pada saat penyerahan tenaga listrik ke pelanggan. Sehingga, ada indikasi bahan bakar pembangkit listrik menjadi struktur yang dibayarkan oleh PLN.
Selain itu, MEDC juga lagi mendorong optimalisasi pembangkit listrik menggunakan pasokan gas dari blok migas Grup perseroan. Sehingga membuat operasional menjadi lebih efisien.
Proyeksi Kinerja MEDC dari Guidance 2026 Manajemen
Dengan menggunakan guidance dari manajemen, kami memperkirakan potensi kinerja pendapatan MEDC berpotensi mencatatkan kenaikan sebesar 13,5% menjadi US$2,71 miliar - US$2,75 miliar, sedangkan EBITDA naik 15% menjadi US$1,45 miliar - US$1,5 miliar.
Menariknya, dari segi laba bersih diproyeksikan bisa naik 132% menjadi US$234 juta - US$250 juta dolar AS. Hal ini berhubungan dengan bagian laba bersih dari AMMN yang meningkat.
Dengan menggunakan guidance 2026 dari manajemen AMMN, kami memproyeksikan AMMN bisa mencetak laba bersih sekitar US$840 juta hingga US$1 miliar di 2026. Sehingga, MEDC mendapatkan bagian laba bersih dari entitas asosiasi (AMMN) sekitar US$175 juta - US$200 juta.
Jika kami menggunakan asumsi dividend payout rasio saham MEDC untuk 2025 sekitar 60% menjadi Rp39 per saham (final hanya Rp11 per saham). Lalu, dengan asumsi dari guidance manajemen serta analisis kami, EPS di 2026 sekitar Rp169 per saham. Jika asumsi payout rasio MEDC di 2026 sekitar 30%, berarti tingkat BVPS MEDC dari FY 2026 sekitar Rp1.520 per saham.
Dengan begitu, price to book value forward MEDC saat ini ada di 0,82 kali. Jika, asumsi PBV wajar MEDC di PBV mean 3 tahun - 5 tahun ada di 1,04 kali. Asumsi wajar ada di Rp1.580 per saham.
Risiko Saham MEDC
Salah satu risiko dari saham MEDC adalah tingkat volatilitas yang cukup tinggi saat merespons pemulihan kinerja keuangan. Apalagi, jika didorong sentimen dari kenaikan harga minyak.
Misalnya, saat 2022 ketika harga minyak mulai bangkit dan MEDC mulai untung, saham MEDC memang naik cukup kencang dari Rp300-an per saham ke Rp1.400 per saham dalam periode 2021-2023.
Namun, kenaikan laba bersih sebesar 14% yang terjadi di 2024 juga tidak diapresiasi signifikan karena tekanan harga minyak yang turun hingga US$60-70-an per barrel di akhir 2024-2025.
Jadi, potensi risiko dari saham MEDC adalah volatilitas harga saham yang juga terpengaruh sentimen harga minyak jika ada fluktuasi luar biasa.
Sejauh ini, kami menilai harga minyak masih bisa bertahan di area US$80 per barrel hingga akhir tahun 2026. Namun, jika di Agustus - Oktober 2026, harga minyak turun ke bawah US$80 per barrel bisa menjadi tekanan harga saham MEDC berada di Rp900 - Rp1.100 per saham. Ini menjadi area terburuk MEDC.