Saham RATU Mau Private Placement, Simulasi di Rp6.000 hingga Aroma Prajogo Nambah Muatan?

Saham RATU berencana private placement dengan target dana hingga Rp1,6 triliun. Lalu, apakah ini bisa jadi momentum untuk saham RATU?

Share
saham RATU

Mikirduit – RATU akan melakukan private placement. Tahapannya masih cukup awal, yakni baru mau minta persetujuan per 8 September 2026. Lalu, bagaimana prospeknya?

RATU berencana melakukan private placement sebanyak-banyaknya sebesar 271,5 juta lembar atau 10 persen dari total saham.

Dalam prospektus terbaru, RATU membeberkan simulasi menggunakan asumsi harga pelaksanaan di Rp6.000 per saham. Namun, ini menggunakan harga saham asumsi bukan harga pelaksanaan yang pasti.

Hanya saja, dari simulasi ini bisa membuat gambaran antara lain:

Pertama, jika asumsi harga pelaksanaan di Rp6.000 per saham, berarti total dana yang dihimpun sekitar Rp1,62 triliun atau 90,81 juta dolar AS.

Kedua, dari segi ekuitas pasca  private placement berpotensi naik menjadi 155,83 juta dolar AS.

Ketiga, dari segi debt to Equity rasio membaik menjadi 1 kali.

Keempat, tingkat book value per share menjadi Rp936 per saham dengan tingkat PBV dengan asumsi harga per 10 Agustus 2026 menjadi 5,5 kali dibandingkan dengan 13 kali pada periode sebelumnya.

Kelima, dari segi laba bersih per saham menyusut menjadi Rp93 dibandingkan dengan Rp103 per saham. Penurunan EPS terjadi karena kenaikan jumlah lembar saham.

Untuk penggunaan dana, RATU hanya menyebutkan akan digunakan untuk pengembangan usaha dan ekspansi perseroan. Mulai dari pembelian aset, saham, dan hal lain. 

Lalu, siapa investor yang menyerap saham tersebut juga masih belum jelas. 

Menerka Kebutuhan Penggunaan Dana RATU

Sebelumnya, RATU disebutkan membuka peluang ekspansi ke luar negeri melalui akuisisi aset minyak dan gas bumi yang sudah berproduksi. Beberapa negara yang sempat disebut mulai dari Malaysia, Thailand, Australia, Turki, hingga Amerika Serikat (AS).

Namun, pihak manajemen RATU menilai rencana ekspansi organiknya terhadang oleh posisi harga minyak yang tinggi karena ketegangan Geopolitik.