Supply Saham Kapal Offshores migas Terbatas Saat Ada potensi Proyek Raksasa Masela, Begini Pilihan Sahamnya
Saham kapal offshores migas terbatas saat ada beberapa proyek offshores migas yang siap mulai melakukan pembangunan seperti Masela hingga South Andaman. Lalu, apa pilihan saham off-shores migas yang menarik?
Mikirduit – Kementerian ESDM terus melakukan lelang wilayah kerja migas, beberapa merupakan lapangan migas Offshore. Dalam kondisi itu, fakta menariknya kapal pendukung aktivitas hulu migas cenderung terbatas secara global maupun domestik. Dari sini, apa peluang yang menarik?
Beberapa proyek hulu migas Offshore yang lagi berjalan antara lain:
- Blok Masela yang menjadi proyek gas Offshore terbesar di Indonesia. Targetnya, Blok Masela mencapai Investment Decision (FID) pada akhir 2026. Setelah mencapai FID, akan masuk ke pengadaan, konstruksi, dan pemasangan serta persiapan pengeboran sumur pengembangan.
- South Andaman ditargetkan mencapai FID pada September 2026. (Target ini molor dari sebelumnya Juni 2026). Rencana produksi dilakukan pada 2028.
- IDD dan Geng North, wilayah kerja migas ini ditargetkan produksi pada akhir 2027 - Kuartal IV/2028. Saat ini, lagi tahap konstruksi.
- Tangguh Train 3 dan UCC ditargetkan produksi pada 2028, sedangkan saat ini lagi penyelesaian pelapisan pipa lepas pantai per Agustus 2026
Lalu, dari lelang blok migas tahap I/2026, Wilayah Kerja Natuna D-Alpha yang dimenangkan oleh PT Nations Petroleum milik Hashim Djojohadikusumo termasuk salah satu wilayah kerja migas Offshore.
Dalam operasional hulu migas dengan Offshore, ada beberapa jenis kapal yang dibutuhkan seperti:
- Kapal Seismik (Seismic Vessel) digunakan paling awal sebelum pengeboran eksplorasi. Biasanya digunakan sejak perusahaan baru memenangkan lelang wilayah kerja.
- Anchor Handling Tug Supply (AHTS) digunakan saat rig pengeboran perlu dipindah posisi atau dipasang jangkarnya di lokasi baru
- Platform Supply Vessel (PSV) berguna sebagai kapal kargo serbaguna yang mengangkut suplai logistik ke rig lepas pantau seperti, bahan bakar, air tawar, lumpur pengeboran, semen, pipa, hingga kebutuhan sehari-hari kru. Untuk kapal ini akan digunakan sepanjang operasional.
- Crew Boat atau Fast Supply Vessel yang bertugas mengangkut personel dan barang ringan dari darat ke fasilitas Offshore dengan cepat. Digunakan setiap pergantian shift kru secara rutin.
- Standby Vessel / Rescue Vessel yang terus siaga di sekitar rig untuk keperluan penyelamatan jika terjadi hal tidak terduga. Kapal ini wajib standby 24 jam selama ada aktivitas pengeboran.
- Diving Support Vessel (DSV) yang mendukung operasi penyelaman untuk inspeksi, perbaikan, atau instalasi struktur bawah laut seperti pipa, wellhead, pondasi, dan platform. Kapal ini mulai digunakan jika ada pekerajaan di bawah laut.
- Pipe-Laying Vessel atau Pipelay Barge menjadi kapal yang akan memasang pipa bawah laut yang menghubungkan sumur dengan fasilitas darat. Digunakan saat fase konstruksi
- Heavy Lift Vessel atau Derrick Barge berfungsi mengangkat dan memasang modul berat seperti struktur kaki platform atau modul berukurang besar. Digunakan saat instalasi platform baru atau pergantian modul besar di platform existing
- Jack-up Rig dan Semi Submersible Rig sebagai unit pengeboran yang bergerak dibantu AHTS.
- Floating Production Storage dan Offloading atau Floating Storage and Offloading berfungsi untuk menyimpan minyak dari sumur dan memindahkan ke kapal tanker. Digunakan saat fase produksi dalam jangka panjang di lapangan laut dalam yang jauh dari infrastruktur pipa darat
- Multi-purpose Support Vessel (MPSV) digunakan untuk konstruksi ringan, inspection, maintenance, dan repair. Digunakan setiap ada operasi pemeliharaan rutin lapangan yang sudah berproduksi.
- Anchor Handling dan Towing Vessel untuk mobilisasi rig antar lokasi jarak jauh yang juga perlu beberapa AHTS bekerja bersamaan menarik rig raksasa seperti semi-submersible.
Lalu, siapa saja emiten yang memiliki bisnis kapal pendukung hulu migas offshore ini?
Ada 6 saham di IDX yang memiliki bisnis terkait kapal Offshore antara lain, ELPI, WINS, RIGS, LEAD, BBRM, dan CBRE.
Perbandingan Kinerja dan Valuasi Saham Kapal Offshore Migas
| Saham | Jumlah Kapal | Gross Profit Margin | Operating Profit Margin | Net Profit Margin | DER | ICR | PBV | EV/EBITDA |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| ELPI | 107 | 18.00% | 12.50% | 13.00% | 0.15 | 6.54 | 2.32 | 21 |
| RIGS | 61 | 23.00% | 11.00% | 18.90% | — | — | 0.40 | 2 |
| WINS | 52 | 49.00% | 39.00% | 17.00% | 0.73 | 18.00 | 0.85 | 6 |
| LEAD | 36 | 11.50% | -11.00% | -22.00% | 0.66 | 2.59 | 0.64 | 3 |
| BBRM | 6 | 51.00% | 46.00% | 45.00% | 0.15 | 17.00 | 1.26 | 8 |
| CBRE | 1 | -54.00% | -160.00% | -197.00% | 89.00 | — | 316.00 | -138 |
Catatan: DER = Debt-to-Equity Ratio; ICR = Interest Coverage Ratio; PBV = Price-to-Book Value; EV/EBITDA = Enterprise Value to EBITDA.
Jila dihitung dari skala armada, urutan terbesar dan terendah antara lain:
- ELPI dengan jumlah armada sekitar 107 armada dengan jenis MPSV, Crew Boat, dan Landing Craft
- RIGS punya 61 kapal dalam bentuk 36 tug boats, 7 self-discharging barges, dan 19 barges. Secara umum kapal yang bisa untuk migas dari jumlah armada tug boats dan barges, sedangkan self-discharging barges untuk tambang batu bara dan nikel. Area operasional RIGS ada di Kalimantan Selatan, dan Tengah, Sulawesi, dan Nusa Tenggara
- WINS punya 52 kapal yang cukup lengkap dari PSV, AHTS, HLB, dan lainnya
- LEAD memiliki 36 kapal Offshore support vessel dengan rata-rata usia sekitar 17 tahun.
- BBRM memiliki 5 kapal AHTS, 1 PSV, dan 1 SPB. Untuk SPB kapal untuk pengangkutan batu bara. Lalu, BBRM juga akan menambah 6 kapal OSV lagi.
- CBRE menjadi salah satu saham kapal offshore hulu migas baru dan memiliki 1 kapal Pipe Laying & Lifting Vessel (PLV) Hai Long yang baru dibeli.
Dari keenam saham itu, mana yang paling menarik?
Dari segi kualitas bisnis, saham WINS menjadi pilihan utama dari skala valuasi saham yang murah dengan skala bisnis yang cukup signifikan di kapal pendukung aktivitas hulu migas Offshore.
Secara pengalaman dan kelengkapan armada, WINS berpeluang menangkap peluang dari kebutuhan untuk operasional hulu migas offshore.
Alternatif pilihan lainnya bisa ke ELPI, RIGS, dan BBRM. Untuk yang tipe spekulatif karena faktor likuiditas yang tipis hingga volatilitas tinggi, kami menilai:
Pertama, Harga saham ELPI sempat naik tinggi karena anak usahanya diakuisisi oleh CDIA. Artinya, ELPI tidak diambilalih oleh Prajogo.
Namun, jika melihat salah satu pemegang sahamnya adalah PT GMT Kapital Asia yang pegang 18% saham perseroan, yang pengendali akhirnya adalah Irwan Atmadja Dinata. Sosok Irwan merupakan Dirut dari PT Moya Indonesia, perusahaan pengelolaan air milik Grup Salim.
Secara risiko bisnis, ELPI memiliki valuasi paling tinggi dibandingkan saham kapal offshore yang mencatatkan laba, dengan tingkat margin keuntungan yang paling rendah.
Kedua, RIGS menjadi emiten kapal yang menyediakan untuk kebutuhan hulu migas dan juga tambang batu bara. Namun, skala bisnis RIGS lebih kecil dari ELPI maupun WINS. Hal itu juga yang membuat valuasinya menjadi paling murah dengan PBV 0,4 kali dan EV/Ebitda 2 kali.
Ketiga, BBRM memiliki 5 kapal AHTS dan 1 PSV untuk offshores. Kabarnya, BBRM mau menambah kapal lagi untuk offshores. Namun, di 27 Agustus 2026, BBRM baru saja membatalkan rencana pembangunan 1 kapal PSV. Secara valuasi, BBRM menjadi yang termahal dibandingkan dengan WINS dan RIGS, dengan skala bisnis lebih besar WINS.
Lalu, kami mengecualikan LEAD dan CBRE karena posisi masih rugi. LEAD bisa saja mencatatkan turnaround jika periode penurunan kinerja akibat divestasi 5 kapal AHTS di 2026 dibalikkan dengan normalisasi pertumbuhan permintaan di 2027.
Masalahnya, divestasi saham AHTS LEAD ini dilakukan untuk memangkas utang. Sehingga, kami menilai saham ini punya risiko cukup tinggi. Tapi, jika dia bisa turnaround membalikkan keadaan di 2027 bukan tidak mungkin ada potensi upside.
Lalu, untuk CBRE saat ini masih mengalami kerugian. Lalu, armada kapal CBRE terkait offshores juga baru 1 kapal. Dengan risiko utang yang tinggi, kami menilai CBRE masih belum masuk pilihan untuk investasi jangka menengah dengan manajemen risiko ketat.
Kecuali, jika ingin berspekulasi ada turnaround dari omzet Hai Long selama setahun penuh di 2027. Mungkin bisa menjadi peluang, apalagi jika ada narasi pembelian kapal baru.
Dengan risiko volatilitas, kami menilai CBRE lebih menarik untuk trading jangka pendek jika demand BUY lagi ramai.
Action
Dari keempat saham itu, kami rekomendasik saham WINS yang cukup bagus secara fundamental dan masih murah. Namun, dalam kalkulasi action, kami membuat kemungkinan yang paling mungkin terjadi dulu sehingga agak terlihat lebih moderat dibandingkan dengan ELPI, RIGS, dan BBRM.
Strategi di Saham Kapal Offshores Hulu Migas
| Saham | Best Buy | Max Buy | Risk Price | Target Price |
|---|---|---|---|---|
| WINS | 498 | 585 | 406 | 655 |
| ELPI | 444 | 580 | 294 | 1.250 |
| RIGS | 490 | 610 | 320 | 980 |
| BBRM | 85 | 123 | 71 | 220 |
Catatan: Best Buy merupakan area harga yang dinilai lebih menarik untuk akumulasi, Max Buy adalah batas atas area pembelian, Risk Price menjadi level risiko yang perlu diperhatikan, sementara Target Price merupakan area target harga berdasarkan skenario analisis.
Adapun, posisi target price hingga risk price ELPI, RIGS, dan BBRM cukup lebar karena faktor likuiditas rendah dan volatilitas tinggi. Artinya, yang punya rentang lebar lebih berisiko secara volatilitas.
Catatannya, dari keempat ini, pilih salah satu saja, jangan semuanya ya.