Menakar Strategi dan Peluang Saham CBRE Jelang Right Issue di Akhir Tahun

Akhirnya, saham CBRE mengumumkan right issue resminya dengan harga pelaksanaan Rp108 per saham. Lalu, apakah saham ini menarik?

Share
saham CBRE

Mikirduit – PT Cakra Buana Resources Energi Tbk. (CBRE) mengumumkan detail rencana right issue dengan harga pelaksanaan Rp108 per saham dan rasio 100:260. Lalu, apakah right issue CBRE ini menarik?

Right issue CBRE ini bisa dibilang cukup jumbo karena rasio saham baru lebih besar dibandingkan dengan saham lama. CBRE menerbitkan 11,79 miliar lembar saham baru, jumlah itu lebih besar dari saham lama yang sebesar 4,53 miliar lembar. 

Dengan begitu, risiko dilusi bisa mencapai 72 persen. Harga teoritis dengan asumsi harga saham 3 September 2026 di Rp710 per saham berarti menjadi Rp275 per saham. 

Dari right issue ini, CBRE berpotensi mendapatkan dana segar sekitar Rp1,27 triliun. Dari total dana itu, senilai Rp858 miliar akan berbentuk konversi utang menjadi saham.

Sisanya, dana right issue sekitar Rp400 miliar akan dijadikan modal kerja.

Hal menarik lainnya, empat nama yang sempat disebut manajemen sebagai pembeli siaga, yakni PT Gunanusa Utama Fabricators, Global Tower Investment Ltd., Andry Hakim, dan Gabriel Rey pada 21 Mei 2026 hilang dari prospektus terbaru. 

Dalam prospektus terbaru, hanya menyebutkan jika saham baru dari right issue ini tidak seluruh dieksekusi oleh pemegang saham, maka sisa sahamnya akan dialokasikan kepada pemegang saham yang melakukan pemesanan lebih besar dengan hak secara proporsional.

Artinya, keempat nama di atas bisa saja tetap mendapatkan jatah saham baru jika nantinya ada sisa saham yang tidak dieksekusi publik. Hanya saja, namanya tidak dibeberkan secara gamblang.

Risikonya adalah nama pihak yang di luar transaksi utang konversi ini bisa melepas sahamnya kapanpun dia mau. Sehingga jika setelah right issue ada kenaikan agresif untuk jadi likuiditas jalan keluar pihak-pihak terkait, kami sarankan jual bertahap terlebih dulu (strategi untuk saham CBRE ada di akhir tulisan)

Prospek Saham CBRE Setelah Right Issue

Dalam struktur right issue terbaru, ada beberapa perubahan yang cukup signifikan.

Pertama, potensi dana dari hingga Rp1,91 triliun turun menjadi Rp1,27 triliun. Ini lebih kepada kepastian harga pelaksanaan yang sebelumnya diberikan rentang antara Rp100 - Rp150 per saham.

Kedua, realisasi konversi utang dengan right issue turun menjadi Rp858 miliar dibandingkan dengan Rp924 miliar pada prospektus awal.

Ketiga, CBRE menghapus rencana penggunaan dana untuk membeli kapal Anchor Handling Tug Supply atau AHTS senilai Rp150 miliar. Sisa dana right issue non-konversi utang sepenuhnya digunakan untuk modal kerja.

Adapun, dampak setelah right issue, saham CBRE bisa mencatatkan posisi ekuitas lebih besar dari liabilitas. 

Hingga Juni 2026, tingkat liabilitas tembus Rp2 triliun dengan ekuitas Rp10 miliar. Setelah right issue, Liabilitas turun menjadi Rp1,14 triliun dan ekuitas naik menjadi Rp1,28 triliun.

Untuk dari segi kinerja keuangan, CBRE akan tergantung dengan bagaimana utilitas kapal Hai Long yang menjadi aset skala jumbo besarnya yang terbaru.

Hingga semester I/2026, CBRE mencatatkan kerugian Rp36 miliar. Apakah berarti bisnisnya memburuk?

Jawabannya, tidak juga, karena dari segi pendapatan naik 205 persen menjadi Rp88,96 miliar.

Namun, tantangannya ada di beban penyusutan yang juga naik 261 persen menjadi Rp33 miliar, operasional kapal naik 1661 persen menjadi Rp21,97 miliar, bahan bakar naik 1867 persen menjadi Rp9,57 miliar, asuransi naik 474 persen menjadi Rp9,1 miliar, keagenan naik lebih dari 1900 persen menjadi Rp4,98 miliar, biaya maintenance naik 419 persen menjadi Rp3,67 miliar, hingga sertifikasi naik menjadi Rp1 miliar dari sebelumnya hanya puluhan juta rupiah. 

Hal itu membuat beban pokok pendapatan naik 388 persen menjadi Rp85 miliar. Kenaikan beban pokok pendapatan ini lebih besar dari pendapatan.

Dari sisi ini, kami menilai CBRE cukup tertekan karena lonjakan penyusutan yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh perseroan sudah masuk fase operating-cost ramp up, tapi pendapatan dari aset barunya belum mencapai run-rate optimal.

Di luar itu, hal yang perlu diperhatikan terkait operasional Kapal Hai Long ini yang cukup tinggi.

Namun, salah satu hal yang dijanjikan menarik untuk CBRE adalah terkait kontrak time charter dengan PT Gunanusa Utama Fabricators selama 5 tahun dan dapat diperpanjang 2 tahun serta tarif 90.000 dolar AS per hari.

Jika kontrak itu bisa mencatatkan utilitasi secara penuh, CBRE bisa mendapatkan pendapatan Rp522 miliar, tapi realisasinya hingga semester I/2026 baru Rp80-an miliar.

Investor bisa menunggu realisasi kinerja kapal Hai Long ini di semester II/2026. Pasalnya, manajemen CBRE mengumumkan kalau kapal Hai Long 106 telah tiba di Indonesia dan siap mendukung proyek Hidayah Field Phase 1. 

Artinya, optimalisasi aset kapal Hai Long ini harusnya bisa terasa di paruh kedua tahun ini.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana terkait biaya kapal tersebut saat beroperasional. Dari guidance manajemen untuk net profit margin sekitar 8,45 persen.

Lalu, secara umum, target manajemen di 2026 cukup ambisius dengan pendapatan tembus Rp319 miliar. Posisi per Juni 2026 baru mencapai Rp89 miliar, artinya baru terealisasi 27,9 persen.

Lalu, untuk laba bersih ditargetkan senilai Rp26 miliar dengan posisi saat ini masih rugi Rp36 miliar.

Apakah target guidance itu mungkin tercapai? jawabannya mungkin saja mengingat Kapal Hai Long mulai bekerja per Agustus 2026. Harapannya, pendapatan yang diterima bisa mencatatkan margin keuntungan yang sesuai.

Strategi dan Valuasi

Lalu, dengan prospek saham CBRE dari aset Hai Long yang punya kontrak 5 tahun ke depan, posisi sekarang sudah murah?