Adu Mekanik Saham Kawasan Industri Tebar Pesona ke Klien Data Center, Siapa yang Menarik?

Saham kawasan industri lagi adu mekanik untuk menarik klien data center. Siapa yang potensial?

Share
saham kawasan industri

Mikirduit – Saham kawasan industri akan adu mekanik untuk merebut potensi pasar data center. Menariknya, potensi data center bukan hanya akan menyerap dari segi penjualan lahan, tapi juga recuring income dari manajemen operasional kawasan. Lalu, siapa yang menarik?

Kami menganalisis dari segi 4 saham yang punya kawasan industri dan bisa berhubungan dengan data center, yakni PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS), PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST), PT Jababeka Tbk. (KIJA), dan PT Intiland Development Tbk. (DILD).

RIsikonya, narasi data center saat ini bisa dibilang sudah cukup mateng dalam kondisi volatilitas sudah cukup tinggi dengan risiko makro ekonomi dari segi keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pekan ketiga di September 2026. Koreksi yang terjadi saat momentum tersebut datang bisa jadi titik akumulasi, selama proyek data center yang sudah masuk tidak ditunda karena kenaikan suku bunga The Fed.

Namun, jika ada saham-saham terkait yang mengalami konsolidasi, justru bisa menjadi peluang untuk masuk. Apalagi, ada yang rutin bagi dividen.

Saham DMAS Cuan Jumbo dari Data Center

Saham DMAS menjadi yang paling banyak memiliki klien data center untuk saat ini. Setelah transaksi jumbo dengan Microsoft pada 2023-2025, kini ada beberapa nama klien data center seperti PT Digital Gayana Ekagrata, PT Princenton Digital Group, PT Indoedge Real Estate and Data Center, dan PT STT GDC Indonesia. Total dari empat klien ini saja, DMAS mampu mencatatkan 93 persen pendapatan hingga semester I/2026. 

Untuk mendukung minat dari klien data center, DMAS juga memberikan fasilitas listrik premium dari PT PLN (Persero). DMAS memberikan fasilitas menjadi mediator dalam berhubungan langsung dengan penyedia listrik negara tersebut. Total kapasitas listrik DMAS saat ini sekitar 1000 mega volt ampere, yang dengan kapasitas klien saat ini masih mencukupi.

Lalu, DMAS juga memberikan kebutuhan air dengan kapasitas sekitar 40.000 meter kubik per hari. Nantinya, kapasitas air akan ditingkatkan hingga 57.000 - 60.000 meter kubik air per hari.

DMAS memiliki fasilitas water treatment plant, waste water treatment plant, hingga water treatment plant recycle. 

Dari segi peluang: DMAS menilai potensi recurring income DMAS berpotensi bertambah dari banyaknya klien data center yang hadir. Pada tahun ini, DMAS memperkirakan pendapatan dari recurring income bisa tembus Rp300 miliar - Rp400 miliar. (Pertumbuhan pendapatan berulang DMAS pada 2025 naik 5 persen menjadi Rp357 miliar)

Jika mengacu ke laporan keuangan DMAS per semester I/2026, margin operating profit dari recurring income DMAS bisa mencapai 56 persen. Dengan asumsi target tahun ini Rp300 miliar - Rp400 miliar, berarti tambahan ke laba bersih bisa mencapai Rp168 miliar - Rp224 miliar. Jika mencapai batas atas, DMAS berpotensi mencatatkan hasil bersih pengelolaan kawasan dengan kenaikan sebesar 19 persen dengan pertumbuhan pendapatan berulang sekitar 12 persen.

Dari segi risiko: salah satu risiko DMAS adalah terkait landbank kawasan industri yang hanya tersisa 60 hektar. Jika dihitung, 60 hektar ini berarti hanya menyisakan penjualan dalam 1 tahun ke depan saja. (Asumsi rata-rata penjualan lahan industri DMAS sekitar 50-80 hektar per tahun)

Namun, pihak DMAS mengatakan pihaknya masih punya landbank total 581 hektar dengan catatan, yang sejak awal dikhususkan untuk industrial tersisa 60 hektar.

Head of Investor Relations and Corporate Sustainability DMAS, Esther Meilia Nathaniel mengatakan perseroan memiliki fleksibilitas dalam mengubah penggunaan rencana lahan, yang mana saat ini masih ada 357 hektar untuk komersial dan 164 hektar untuk residensial.

Dari sini, kami menilai DMAS masih punya ruang menambah porsi kawasan industrinya. Namun, kami kurang mengetahui apakah proses perombakan rencana industrial, commercial, dan residential menjadi kawasan industri itu membutuhkan birokrasi yang panjang atau seperti apa.

Di sisi lain, Direktur DMAS Tondy Suwanto mengatakan perseroan memang cukup kesulitan mencari tambahan landbank di sekitar Cikarang tersebut. Perseroan masih fokus mencari tambahan landbank di area Cikarang saat ini karena akan lebih mudah integrasi dengan fasilitas eksisting.

“Kami masih fokus cari sekitar daerah Deltamas saat ini karena Integrasi dengan infrastruktur yang telah kami bangun akan lebih mudah dan murah,” ujarnya dalam public expose pada 7 September 2026.

Sentimen jangka pendek: Manajemen DMAS tengah mempertimbangkan revisi target ke atas setelah melihat kinerja semester I/2026 yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih hingga 175 persen. Namun, angka revisi target ke atasnya masih belum disebutkan karena masih dalam tahap diskusi manajemen.

Sepanjang 2026, DMAS menargetkan pre-sales sekitar Rp2,08 triliun, sedangkan realisasi hingga Juni 2026 sudah mencapai Rp1,15 triliun. 

Sentimen Kejutan: Salah satu yang menarik, Tondy Suwanto menilai pihaknya (DMAS) akan mengkaji jika ada lahan di luar Deltamas saat ini dengan luas lebih dari 500 hektar untuk menjadi kawasan industri baru. Namun, belum dijelaskan apakah sudah ada penjajakan khusus di daerah tertentu atau tidak. Jika ada penjajakan yang terungkap bisa menjadi sentimen kejutan untuk DMAS.

Strategi: berikut ini plan untuk area BUY saham DMAS