Adu Saham Pemilik Backbone Fiber Optik dan Data Center Skala Jumbo TLKM vs ISAT

Saham ISAT dan TLKM menjadi dua proxy saham data center AI paling lengkap. Keduanya, punya data center skala hyperscale hingga fiber optik backbone. Tapi, siapa yang terbaik?

Share
saham TLKM dan ISAT

Mikirduit – Dua saham telekomunikasi jumbo yang punya eksposure di data center berada di valuasi yang cukup murah. Lalu, mana pilihan yang terbaik? 

Kedua saham telekomunikasi ini adalah PT Indosat Ooredo Hutchinson Tbk. (ISAT) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM). Posisinya, kedua saham ini memang murah, tapi dengan status yang berbeda.

Catatannya: dalam jangka pendek sektor data center dan AI bisa jadi terkena guncangan dari risiko kenaikan suku bunga The Fed hingga tekanan volatilitas market jika Bank of Japan kembali menaikkan suku bunga.

Secara komparasi ISAT dengan TLKM dari segi PBV atau EV/Ebitda, ISAT lebih murah daripada TLKM. Namun, volatilitas ISAT cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Saat ini, ISAT lagi mengalami retracement. Di sisi lain, TLKM belum menunjukkan valuasi yang signifikan dan terus bertahan di bawah Rp3.000 per saham. Jadi, mana pilihan bijak saat ini?

Saham ISAT dengan Proyek Data Center hingga Factory AI Jumbo

Jika bicara tren data center, ada tiga hal yang dimiliki oleh ISAT.

Pertama, ISAT sudah punya bisnis data center yang sudah berjalan hasil kolaborasi dengan BDx Asia. Meski, dalam kepemilikan data centernya, ISAT menjadi minoritas dengan total kepemilikan sebesar 25 persen.

Data center yang bernama BDx Indonesia ini memiliki kapasitas terpasang sekitar 90 MW yang menjadikannya data center terbesar kedua setelah PT DCI Indonesia Tbk. (DCII). Bahkan, mengalahkan TLKM.

Ke depannya, BDx Indonesia lagi membangun data center CGK4 di Jatiluhur dengan kapasitas hingga 500 MW, serta CGK5 di area PT  Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) dengan target kapasitas 300 MW dan masih dalam tahap pengembangan. Skala data center milik BDx Indonesia ini juga sudah siap menerima klien yang membutuhkan hyperscale.

Bisnis BDx Indonesia juga menghasilkan laba bersih sepanjang semester I/2026 senilai Rp130 miliar dibandingkan dengan rugi Rp42 miliar. Dari total itu, yang masuk dalam konsolidasi ISAT hanya Rp32,5 miliar. Faktor pendorong laba bersihnya antara lain kenaikan pendapatan sebesar 29,9 persen menjadi Rp807 miliar.

Kedua, ISAT juga melakukan restrukturisasi kepemilikan saham di aset fiber optiknya. Jadi, ISAT membentuk Fiberco bersama konsorsium Arsari Group dan Northstar Group untuk memperkuat digital backbone di Indonesia.

Hasilnya, ISAT melakukan divestasi sebagian aset fiber optiknya di PT Infra Fiber Teknologi itu senilai Rp11,68 triliun kepada Grup Arsari dan Northstar melalui PT Nusantara Fiber Teknologi.

Nah, sebagai kompensasi, ISAT juga punya porsi kepemilikan di PT Nusantara Fiber Teknologi yang menjadi pemegang saham PT Infra Fiber Teknologi. 

Setelah menjual sebagian aset fiber optiknya tersebut, ISAT melakukan perjanjian sewa untuk kebutuhan backhaul BTS, backbone antar kota, konektivitas enterprise, data center, fixed broadband, dan trafik 4G/5G. 

Dari transaksi ini, ISAT disebut mencatatkan keuntungan sekitar Rp1,52 triliun. Hal ini yang menjadi pendorong kinerja laba bersih ISAT di 2026. Tapi, transaksi ini sifatnya one-off yang tidak berulang di 2027.

Aset yang ada di Fiberco tersebut menjadi salah satu jaringan backbone yang dibutuhkan data center.  

Catatannya, ISAT juga punya kesepakatan dengan Northstar terkait menggunakan data center-nya yang bakal dioper kepada PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. (MLGV) yang akan dibangun di daerah Batang, Jawa Tengah.

Ketiga, ISAT bersama Grup Ooredoo, Nokia, dan Nvidia melakuka kolaborasi membangun Factory AI bernama Zankore by Indosat. Jadi, AI Factory ini merupakan konsep sistem atau infrastruktur terintegrasi yang dirancang untuk mengubah data mentah menjadi produk kecerdasan buatan. Jadi, proses pengolahan data untuk menjadi aktivitas AI dibangun di AI Factory tersebut

Nantinya, AI Factory Zankore by Indosat ini ditargetkan menjadi AI Factory NVIDIA DSX sebesar 1 Gigawatt. Ini akan menjadi AI Factory terbesar di Asia Tenggara. 

Untuk tahap awal, Zankore akan menyediakan sekitar 200 MW kapasitas AI menggunakan NVIDIA GB300 NVL72. Nantinya, fasilitas ini akan rampung di semester I/2027.

Lalu, AI Factory juga akan terintegrasi dengan NVIDIA DSX MaxLPS yang mengoptimalkan daya secara dinamis di seluruh laposan GPU, serta meningkatkan kapasitas komputasi dalam batas daya yang tersedia. 

MaxLPS dirancang untuk dapat memaksimalkan kapasitas komputasi hingga lebih dari 40 persen. Dengan begitu, harapannya Zankore bisa optimal melayani pengguna dan menjadi pendorong potensi pendapatan ISAT.

Dalam kolaborasi ini, Grup Ooredoo menjadi sponsor utama yang menyediakan modal jangka panjang hingga memperluas jangkauan AI Factory ke skala regional. Llu, NVDA memperkuat AI Factory lewat accelerated computing, software AI, GPU generasi terbaru, dan ekosistem AI global. Dari segi Nokia, menghadirkan jaringan berbasis AI untuk menciptakan infrastruktur AI yang aman dan berkinerja tinggi.

Komposisi pemegang saham Zankore by Indosat antara lain, 49 persen dimiliki oleh Ooredoo Group, sedangkan 51 persen dimiliki secara bersama-sama oleh ISAT, NVDA, dan Nokia. Dalam hubungan kepemilikan ini, kepemilikan ISAT di Zankore disebut lebih tinggi dari NVDA dan Nokia, tapi masih lebih rendah dari Ooredoo Group, sehingga ada potensi sekitar 15-30 persen.

Dengan asumsi harga per rak sekitar 3,85 juta dolar AS, modal untuk GPU sekitar 5,1 miliar dolar AS, serta alokasi 15 persen untuk jaringan untuk penyimpanan data, fit-out. Sehingga biaya per MW sekitar 29,5 juta dolar AS yang masih berada di rata-rata industri sekitar 25 juta - 40 juta dolar AS.

Dari hitungan kasar ISAT punya porsi kepemilikan 30 persen di Zankore, berarti kontribusi dari bisnis tersebut terhadap ekuitas ISAT mencapai Rp8,8 triliun.

Dari segi pendapatan diperkirakan bisa menghasilkan sekitar 2,9 miliar dolar AS, EBITDA sekitar 2 miliar dolar AS, hingga laba bersih sekitar 1,1 miliar dolar AS. Dari total proyeksi itu, ISAT bisa dapat bagian Rp1,4 triliun per tahun mulai dari tahun buku 2028.

Risiko: Ada beberapa risiko yang kami catat untuk saham ISAT:

Pertama, Ada catatan pos keuangan one-off terkait divestasi aset fiber optik senilai Rp1,5 triliun di 2026. Sebenarnya secara organik, bisnis ISAT bertumbuh agresif dengan laba sebelum pajak tumbuh 32,8 persen dengan mengecualikan keuntungan bersih dari divestasi tersebut.

Tapi, tantangannya, pertumbuhan kinerja ISAT di 2027 akan terdisrupsi secara persentase karena ada pos senilai Rp1,5 triliun ini akan hilang. 

Sebenarnya, secara risiko bisnis tidak ada, tapi ada risiko persepsi yang berpotensi menekan harga saham ISAT dalam jangka pendek saat periode rilis laporan keuangan 2027 berjalan.

Kedua, ISAT akan mencatatkan kenaikan beban biaya frekuensi setelah memenangkan frekuensi 700 Mhz untuk blok 20 Mhz (2x10 Mhz) senilai Rp507 miliar dan frekuensi 2,6 GHz dengan alokasi blok 60 Mhz senilai Rp372 miliar. Sehingga total Rp879 miliar per tahun. 

Lalu, untuk tahun pertama, ISAT harus membayar senilai Rp2,4 triliun. Namun, Komdigi sejak 2015 melonggarkan pemenang lelang bisa mencicil biaya awal bertahap ini selama 5 tahun. Namun, tetap saja, hal itu bisa menaikkan biaya operasional jika monetisasi jaringan 5G tidak optimal.

Ketiga, Antusias proyek Zankore masih terlalu dini. Pasalnya, proyek itu baru rampung pada 2028 dengan estimasi bisa menghasilkan laba bersih (secara keseluruhan) Rp1,4 triliun jika berjalan lancar. Dari total itu, ISAT di Zankore sekitar 15-30 persen, sehingga porsi dari Rp1,4 triliun itu akan terasa kecil, yakni sekitar Rp210 miliar - Rp420 miliar.

Namun, jika tahap awal proyek itu berjalan ternyata merugi, posisi risiko ISAT juga tidak terlalu besar karena pemegang minoritas dari proyek tersebut.

Saham TLKM, Proxy Data Center yang Masih Belum Gerak

Sebenarnya, skala TLKM dan ISAT ini hampir mirip. TLKM yang punya operator seluler Telkomsel juga memiliki skala data center terbesar ketiga di Indonesia. Ditambah, TLKM juga melakukan hal yang mirip dengan ISAT, mulai dari pengembangan bisnis data center dan restrukturisasi aset fiber optik internalnya. 

Pertama, Saham TLKM punya beberapa sentimen yang bisa mendorong kinerja keuangannya dalam jangka pendek.

Pertama, TLKM saat ini memiliki 6 data center dengan total kapasitas 49,9 MW. Tipe data center TLKM sudah siap untuk hyperscale AI. 

6 Area data center TLKM antara lain, di DC Cikarang dengan kapasitas 15,5 MW dengan okupansi hingga 96 persen, DC Singapura dengan kapasitas 17,4 MW dan okupansi sekitar 90 persen, serta DC Batam dengan kapasitas 6 MW yag akan aktif pada semester II/2026. Ketiga data center tersebut sudah ready untuk Hyperscale.

Selain itu, ada 3 data center enterprise dan Edge DC seperti 3S DC dengan kapasitas 16 MW dan okupansinya sebesar 78 persen. Lalu, ada neuCentrix yang punya 26 sites dan sebanyak 3060 rak, terakhir ada data center di Hong Kong dan Timor Leste dengan kapasitas 1 MW.