Saham CPIN Kian Jeblok Setelah Didepak dari MSCI Global Standard, Peluang Beli Harga Diskon?
Saham CPIN kian tertekan setelah keluar dari MSCI Global Standard dan masuk ke small caps. Lalu, apakah saat ini peluang beli di harga diskon?
Mikirduit – Harga saham CPIN sudah turun 31,93 persen sejak awal tahun hingga 14 Agustus 2026. Ditambah, saham CPIN baru saja didepak dari MSCI Global Standard dan turun kasta ke MSCI Small Caps. Tingkat PBV CPIN sebesar 1,44 kali, berada di bawah 1,65 kali dari PBV standard deviasi -2. Lalu, bagaimana prospek saham CPIN?
Jika melihat tren kinerja keuangan CPIN, perseroan mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang cukup solid di semester I/2026 dengan kenaikan sebesar 94,7 persen menjadi Rp3,71 triliun.
Kenaikan itu, mayoritas didorong efisiensi yang membuat tingkat margin keuntungan membaik. Hal itu bisa terlihat dari pertumbuhan laba kotor tembus 47,1 persen menjadi Rp6,95 triliun, sedangkan laba usaha naik 74,2 persen menjadi Rp4,64 triliun. Padahal, dari segi penjualan hanya mencatatkan kenaikan 19,2 persen menjadi Rp39,42 triliun.
Dari segi segmen bisnis, pertumbuhan paling agresif terjadi di segmen pakan. Dari segi pendapatan, segmen pakan mencatatkan kenaikan 46 persen menjadi Rp13,38 triliun. Ditambah, segmen pakan menjadi kontributor pendapatan terbesar kedua.
Posisi kedua ada di penjualan days old chick yang mencatatkan kenaikan 71,5 persen menjadi Rp2,28 triliun.
Dari segi kontributor utama, yakni ayam pedaging, juga masih mencatatkan pertumbuhan positif dengan kenaikan sebesar 6,7 persen menjadi Rp17,43 triliun.
Dalam lonjakan pendapatan di segmen pakan dan DOC itu, saham CPIN tidak mencatatkan penjualan ke satu customer dengan porsi lebih dari 10 persen. Artinya, customer cukup beragam.
Jika melihat guidance CPIN 2026 dari manajemen, realisasi kinerja saat ini sangat on-the track. Manajemen memasang target guidance moderat dengan pertumbuhan penjualan dan laba tahun berjalan sebesar 5 persen. Dengan begitu, estimasi pendapatan sebesar Rp74 triliun, sedangkan laba bersih sekitar Rp5,93 triliun.
Dengan realisasi semester I/2026, jika dihitung secara annualized, CPIN bisa mencapai di atas target guidance manajemen.
Tantangan Saham CPIN
Namun, ada satu tantangan terbesar di sektor saham ini, yakni El Nino.
Adapun, korelasi El Nino dengan saham pakan ternak antara lain, kekeringan dan cuaca panas berpotensi membuat produksi jagung terganggu. Dengan kondisi Supply jagung terganggu, harga jagung bisa naik. Hal itu bisa membuat biaya pakan naik dan margin bisnis pakan tertekan.
Sepanjang paruh pertama tahun ini, harga bahan baku CPIN sudah naik 14,8 persen menjadi Rp27,22 triliun. Tapi, tingkat kenaikan itu masih bisa diakomodir dengan pendapatan yang tumbuh 19,2 persen.