Saham Growth Investing: DGWG Menangkap Peluang Kenaikan Pupuk di Tengah Risiko Ancaman El Nino
Saham DGWG menjadi pilihan baru untuk tipe growth investing. Pahami peluang dan risikonya di sini
Mikirduit -- DGWG menjadi emiten pupuk anyar yang berpotensi mendapatkan momentum kenaikan harga pupuk di 2026. Lalu, bagaimana prospek pertumbuhan dan strategi di saham DGWG?
Summary Kinerja DGWG 2025
DGWG baru IPO pada Januari 2025, tepat setelah IPO dengan harga pelaksanaan di Rp230 per saham, kinerja DGWG sepanjang 2025 pun meroket.
DGWG mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 26% menjadi Rp224 miliar. Pertumbuhan laba bersih itu ditopang oleh:
- Pertumbuhan pendapatan naik 22,95% menjadi Rp4,14 triliun
- Operasional yang lebih efisien dari segi beban penjualan dan beban umum yang membuat laba usaha naik 44% menjadi Rp401 miliar
Catatannya, DGWG mencatatkan kenaikan piutang yang cukup besar mencapai 31% menjadi Rp1,28 triliun sepanjang 2025.
Dari total piutang itu, senilai Rp513 miliar sudah berstatus telat 1-90 hari. Adapun, piutang ini juga dijadikan jaminan untuk kredit oleh DGWG.
Sementara itu, kami mencatat dari segi jumlah utang DGWG mencatatkan kenaikan sebesar 19,41% menjadi Rp1,03 triliun. Namun, dari segi ekuitas juga naik 39% menjadi Rp1,09 triliun. Sehingga tingkat DER DGWG sedikit di bawah 1 kali, yakni 0,95 kali.
Meski terlihat mepet, tapi jika dibandingkan dengan tingkat Interest coverage ratio (ICR)-nya masih cukup aman di 4,87 kali.
Di sisi lain, kami menyoroti terkait cashflow operation DGWG yang negatif Rp24 miliar, meski menghasilkan laba bersih Rp224 miliar. Namun, jika dilihat, posisi cashflow operation itu negatif karena adanya pembelian bahan baku dalam jumlah besar.
Jika dilihat, kenaikan pembelian bahan baku itu selaras dengan kebutuhan pendanaan IPO perseroan di awal tahun.
Dari total dana Rp1,03 triliun, DGWG memang ingin menggunakannya sebanyak 53,2% (sekitar Rp500-an miliar) untuk modal kerja pembelian bahan baku pestisida. Lalu, sisanya juga disetorkan ke anak usaha PT Feritilizer Inti Technology untuk pembelian bahan baku pembuatan pupuk.
Namun, kami tidak mendapatkan info detail apakah seluruh bahan baku yang dibeli itu sudah dioptimalkan menjadi revenue pada 2025 atau belum. Jika belum akan menjadi cukup menarik untuk outlook DGWG di 2026 saat harga pupuk naik.
Dari segi pendapatan per segmen bisnis, kontributor pendapatan terbesar berasal dari bisnis pupuk yang mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan sebesar 22,75% menjadi Rp2,59 triliun. Meski, dari segi laba bersih, kontribusi terbesar dari bisnis Pestisida. Walaupun, sepanjang 2025, laba bersih bisnis Pestisida mengalami penurunan 19% menjadi Rp121 miliar.
Adapun, bisnis DGWG yang memiliki skala pendapatan besar ada di distribusi yang mencatatkan pertumbuhan 48% menjadi Rp1,1 triliun. Namun, margin keuntungannya sangat tipis hanya 1% dengan tingkat laba bersih hanya Rp11 miliar.
Analisis Segmen Bisnis
Kinerja DGWG
2021 – 2025
Dalam Rp juta · Empat segmen: Pestisida, Pupuk, Perlengkapan & Peralatan, Distribusi
| Segmen | Laba 2024 (Rp jt) | Laba 2025 (Rp jt) | Growth YoY |
|---|---|---|---|
| Pestisida | 150.953 | 121.344 | −19,61% |
| Pupuk | 68.904 | 112.188 | +62,82% |
| Perlengkapan | −907 | −2.704 | −198,13% |
| Distribusi | 1.110 | 11.395 | +926,58% |
Pendapatan pulih ke level 2021 setelah sempat terkoreksi. Namun laba terus melandai — NPM anjlok dari puncak 24,16% (2023) ke 8,86% (2025). Ada tekanan biaya atau persaingan harga yang perlu dicermati.
Dari nol di 2021, Pupuk menjelma jadi segmen terbesar DGWG hanya dalam 4 tahun. Laba naik setiap tahun tanpa interupsi. Momentum kuat — momentum NPM yang terus membaik menjadi sinyal positif.
Satu-satunya segmen yang belum pernah cetak laba positif sejak 2021. Meski pendapatan tumbuh stabil, kerugian justru semakin dalam di 2025. Perlu evaluasi menyeluruh pada struktur biaya atau strategi penetapan harga.
Dari rugi Rp 57,5 M (2023), Distribusi berhasil balik untung dan mencatat pertumbuhan laba +926% di 2025. Pendapatan pun melesat +48,85%. Segmen paling menarik untuk dipantau ke depan.
Outlook Saham DGWG
Saham DGWG memiliki beberapa rencana ekspansi yang tengah berjalan dari tahun lalu seperti:
- DGWG tengah membangun pabrik karbamat untuk produksi bahan aktif pestisida methomyl yang didirikan di Cikande, Banten. Manajemen ekspektai pada tahun pertama, pabrik itu bisa berkontribusi ke kinerja pendapatan hingga Rp65 miliar di tahun pertama hingga Rp575 miliar di tahun kelima. Ekspektasi pertumbuhan ke laba bersih mulai dari Rp5,96 miliar hingga Rp58 miliar dari tahun pertama dan kelima. Targetnya, pabrik itu mulai beroperasi penuh pada 2026. Kapasitas awal sekitar 2.000 metrik ton per tahun dengan maksimal bisa mencapai 15.000 metrik ton per tahun dalam 3 tahun pasca operasional.
- DGWG berencana meningkatkan kapasitas produksi pupuk menjadi 500.000 ton pada 2026 sehingga bisa mendorong pertumbuhan segmen bisnis tersebut.
Dari proyeksi kami dengan menggunakan tambahan laba bersih secara penuh dari pabrik Karbamat senilai Rp6 miliar, kenaikan harga pupuk 5 persen, dan kenaikan volume penjualan pupuk 25 persen (dari kenaikan kapasitas produksi). Dari situ, kami proyeksikan laba bersih DGWG berpotensi naik 31% menjadi Rp288 miliar.
Catatan risiko saham DGWG:
Pertama, tingkat utang tidak terlalu tinggi, tapi tidak berada di level aman dengan karakter bisnis yang cukup cyclical, terutama oleh faktor cuaca.
Kedua, ada ekspektasi El Nino di 2026-2027. Jika adanya kekeringan, biasanya aktivitas pemupukan hingga pestisida berpotensi menurun.
Ketiga, kami melihat aktivitas pengendali melepas sahamnya cukup ekstrem. Sebelumnya, David Yaory memiliki 72,26% saham DGWG, tapi terakhir sudah turun menjadi tersisa 30,09%. Meski begitu, hingga Maret 2026, nama David Yaory tetap memegang 72 persen saham DGWG.
Dari sini, kami menilai ada potensi saham miliknya sering di-repo sehingga mencatatkan fluktuasi porsi kepemilikan. Kondisi ini bisa membuat harga saham cenderung berfluktuasi.
Perbandingan DGWG dengan SAMF dan NPGF
Ada dua saham yang memiliki bisnis mirip dengan DGWG secara mayoritas, yakni SAMF dan NPGF.
Dari skala produksi pupuk, SAMF lebih besar dibandingkan dengan DGWG. SAMF mencatatkan produksi pupuk hingga 700.000 ton per tahun. Sementara itu, jika dibandingkan dengan NPGF, skala DGWG menjadi lebih besar. Kapasitas produksi pupuk NPGF mencapai 96.000 ton per tahun.
Jika dibandingkan rencana ekpansi, setiap saham ini memiliki momentum masing-masing seperti:
- DGWG punya ruang ekspansi pabrik karbamat dari segmen bisnis pestisida dan kenaikan kapasitas produksi pupuk
- SAMF tidak menyebutkan detail rencana ekspansi, tapi manajemen membuat guideline pertumbuhan pendapatan 34% dengan laba bersih tumbuh 77%
- NPGF mencatatkan kontrak Rp217 miliar dari sektor CPO pada awal 2026. Angka kontrak itu cukup besar bagi NPGF karena melebihi pendapatan twelve trailing month di 2025 senilai Rp199 miliar
Kesimpulan
Jika menggunakan proyeksi laba bersih DGWG 2026 dari kami sekitar Rp288 miliar, payout ratio 30 persen (sesuai dengan guideline di prospektus), serta asumsi wajar DGWG di PBV 2 kali (di bawah posisi saat ini yang berada di 2,1 kali). Asumsi wajar DGWG ada di Rp408 per saham.
Berhubung, mengejar pertumbuhan meski posisinya belum murah banget bisa ambil posisi secara bertahap.
Walaupun, ada risiko saat El Nino yang terjadi cukup besar bisa akan mempengaruhi prospek kinerja saham ini. Namun, itu akan terjadi jangka menengah (1 periode El nino) setelah itu akan kembali mencatatkan pertumbuhan dari low base.
Sehingga jika masuk sekarang, harus siapkan alokasi mayoritas menunggu selesai El Nino hingga pertengahan 2027.